Kemarin saya ngobrol-ngobrol sama teman sekamar plus mbak-mbak di kos-kosan :
Saya : Aku loh mbak, sering ngobrol sendirian di kamar mandi ato di kamar membayangkan sesuatu secara detail, dimainin drama gitulah..
Mbak Kos (selanjutnya akan disebut dengan MK) : Iya.. aku juga sering gitu, tapi cuma tak bayangin aja, nggak didramain.. (dengan wajah ‘ngapain juga diaktingin?kurang kerjaan aja’)
MK 2 (Mbak Kos yang lain) : Sebenarnya itu apa sih?
Saya : Kalo aku sih, bayangin seandainya aku ada di posisi itu, aku mesti gimana mbak.. Misalnya, pacarku ketauan jalan sama cewek lain, Naudzubillah..tapi ya.. aku berakting gimana caranya marah tapi elegan
MK2 : Itu skizofrenia nggak sih? Halusinasi ya?
MK : Kamu serem la'an tia?
Saya : Hahh..yo nggak to mbak.. Itu kan cuma imajinasi aja, tapi tak visualisasikan (nggak terima dong sayanya)
Teman Sekamar (TS): Sek..sek..tak ambilin buku mbak..
Si TS yang baik hati dan rajin itupun kembali dengan si gendut buku Psikologi Abnormal yang bisa jadi dingklik. Proses belajar mengajar pun dimulai..
Sebenarnya, apa sih halusinasi dan kawan-kawannya itu? Harus memenuhi unsur-unsur apa sajakah supaya saya bisa dibilang skizofrenia?
Waham (delusi), yaitu keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan. Sedangkan halusinasi adalah suatu pengalaman inderawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan, yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditori. Dan keduanya merupakan simtom-simtom postif dari skizofrenia
Jadi, pembelaan diri saya adalah :
1. Saya tidak meyakini bahwa apa yang saya bayangkan itu benar. Saya tahu betul bahwa itu hanya imajinasi saya.
2. Saya tidak mengikutkan inderawi dalam imajinasi saya. Bakat keartisan sayalah yang menuntun saya untuk masuk dalam imajinasi saya (*hoek)
Kesimpulannya, saya berimajinasi tinggi, cerdas-kreatif, dan tidak psikosis :)))
No comments:
Post a Comment
How do you think? :)