Monday, May 24, 2010

Baby baby my baby..you drive me crazy



Judul diatas bukan berarti saya akan membahas lagu Cinlau.. :P
Tetapi..kali ini cerita saya akan ‘macak’ dewasa dan keibuan :) Boleh ya?
Kemarin saya habis ngobrol-ngobrol dengan temen yang udah punya baby. Dia cerita gimana serunya hamil, tegangnya melahirkan, repotnya ngurus anak, dan sebagainya.. Dari ceritanya sih saya menyimpulkan punya baby itu tegang-tegang,enak, repot romantis. Tegang karena bakal menjalani hidup baru sebagai Bunda, enak karena berarti dikasih kepercayaan sama Allah buat menyempurnakan hidup sebagai wanita, repot romantis karena pasti riweuh harus ngurus baby terutama untuk pertama kalinya tapi pasti bakal jadi romantis karena ditemenin suami tersayang tercinta (hahaha..gayaku ngomong kayak udah pengalaman aja.. :P )
Kalo dibantu sama si pasangan, pasti kita terhindar dari yang namanya Post Partum Syndrome aka. Baby Blues. Kenapa? Karena ketegangan kita sebagai ibu baru, akan terkurangi dengan kehadiran suami yang membantu dan meminimalisir kerepotan kita.
Tapi..gimana kalau si bapak yang mengalami Baby Blues? Siapa yang ‘tulungin’ kita?
Tahukah anda? Bahwa tidak hanya wanita yang bisa mengalami yang namanya Baby Blues, tapi para lelaki juga. Seperti yang saya baca di koran beberapa hari yang lalu..

Baby Blues tidak hanya dialami ibu yang baru melahirkan. Ayah juga berisiko mengalami sindrom serupa. Sayang, pria yang menderita sindrom tersebut tak terdeteksi.
Sebuah penelitian yang tertulis dalam ‘Journal of The American Medical Association’ menyebut, satu diantara sepuluh ayah mengalami sndrom Baby Blues. Meski angkanya lebih kecil daripada kaum ibu, seharusnya gejala-gejala itu dapat dikenali.
Salah satu penyebabnya, kurang tidur karena tanggung jawab baru mengurus bayi. Mendampingin istri yang bingung mengurus si mungil juga rawan menjadi pencetusnya. 
Tim The Eastern Virginia Medical School melakukan 43 penelitian. Studi itu melibatkan 28.004 orang tua dari 16 negara di Amerika Serikat dan Inggris. Mereka menemukan, ayah baru memang gembira atas kehadiran buah hatinya. Namun, tiga hingga enam bulan kemudian, mulai muncul gangguan psikis.persentasenya, 10-25 persen.
Dr James Paul dan Shamil Bazemore menjelaskan, perlu screening lebih baik untuk mengenali gangguna psikis pada ayah baru. Sebab, mereka memiliki emosi, tingkah laku, dan perkembangan yang berdampak pada anak. Terapinya harus dilakukan berdua, ayah dan ibu.
Bridget O’Connel dari Mental Health Charity menambahkan, menjadi orang tua merupkan kesempatan besar bagi pria dan wanita untuk bekerjasama. Jika da sedikit kesalahpahaman, hal itu akan berdampak pada kesehatan mental. Karena, orang tua baru bisanya kurang tidur, gaya hidup pun berubah. Begitu pula hubungan dan tanggung jawabnya.
(Sumber : Jawa Pos, Jum’at 21 Mei 2010)

Walaupun penelitian di atas belum dibuktikan di Indonesia,  tidak ada salahnya berjaga-jaga.
Jadi..wahai calon ibu dan bapak sekalian, jalinlah komunikasi  yang baik dan mental yang sehat nan kuat sejak awal. Agar bisa saling membantu dan memahami saat si buah hati telah tiba.
Selamat menjadi Ayah dan Bunda! 

No comments:

Post a Comment

How do you think? :)