Monday, May 24, 2010

Agresi oh agresivitas..

Pada sadar gak sih? Akhir-akhir ini kita gampang sekali berbuat anarkis? Gampang sekali tersulut emosi..
Masalah sekecil apapun bisa menjadi suatu alasan kuat untuk bisa menyakiti orang lain. Baik secara verbal ataupun perilaku nyata. Milai yang paling sederhana seperti macet di jalanan, pesanan yang datang terlambat di restoran hingga yang mulai rumit seperti dendam politik atau ketidakpuasan sosial.
Semua gampang sekali menjadi penyulut untuk melakukan agresivitas.
Tapi..sebenarnya apakah agresivitas itu?

Tingkah laku agresif adalah tingkah laku yang tertuju pada keberhasilan menyakiti atau melukai makhluk hidup yang tidak ingin diperlakukan demikian (Bron & Byrne, 2004). Dari berbagai penjelasan mengenai pengertian tingkah laku agresif, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat empat ciri-ciri umum dari tingkah laku agresif tersebut, yaitu :
- Intensi atau niat
- Perilaku menyakiti
- Makhluk hidup
- Secara fisik maupun verbal
Perlu diingat bahwa ciri-ciri di atas tidak selalu mutlak ada di dalam sebuah tingkah laku agresi, apabila salah satu dari ciri-ciri di atas terdapat dalam satu kejadian maka kejadian tersebut dapat dianggap sebagai perilaku agresi namun juga bisa tidak. Namun menurut Sears, Freedman dan Peplau (1991), perilaku melukai yang tidak disertai dengan maksud melukai tidak dapat digolongkan sebagai agresif. Jadi dapat disimpulkan niat atau intensi seseorang untuk menyakiti merupakan faktor yang paling penting yang menyebabkan terjadinya suatu tingkah laku agresi.
Myers (1966) membagi agresi dalam dua jenis yaitu hostile aggression dan instrumental aggression. Hostile aggression adalah agresi yang bertujuan untuk melampiaskan emosi, sedangkan instrumental aggression adalah agresi yang dilakukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain. Jenis agresi instrumental berbeda dengan hostile aggression bukan hanya dilihat dari tujuannya saja, tetapi juga karena agresi instrumental tidak disertai dengan emosi. Bahkan, antara pelaku dan korban kadang-kadang tidak saling kenal (tidak ada hubungan pribadi).
Banyak teori yang menjelaskan mengenai agresi tersebut, salah satunya adalah teori Naluri yang tergolong dalam teori bawaan. Menurut teori ini, Freud dalam teori psikoanalisisnya mengemukakan bahwa manusia memiliki dua jenis naluri dalam dirinya yaitu naluri eros (seksual) dan thanatos (agresi). Naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan, sedangkan naluri agresi berfungsi mempertahankan jenis. Selanjutnya ada pula teori frustrasi-agresi klasik yang tergolong dalam teori lingkungan. Menurut teori yang dikemukakan oleh Dollard dkk (1939) dan Miller (1941) ini, bahwa agresi dipicu oleh frustasi, yaitu hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan.
Perilaku agresif juga dipengaruhi oleh keberadaan suatu kelompok. Menurut Mullen (1986), semakin besar jumlah gerombolan pelakunya, semakin kejam proses lynching-nya (pengeroyokan dan penyiksaan). Hal ini disebabkan bukan hanya oleh faktor ikut terpengaruh, tetapi juga karena ada perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas kelompok, (kalau tidak ikut dianggap bukan anggota kelompok), dan ada deindividuasi (identitas sebagai individu tidak dikenal) (Staub,1996).

Marilah mulai sekarang kita bersama-sama menjaga diri dari tindakan yang bisa menyakiti orang lain.
Bila masing-masing dari kita berusaha untuk saling menjaga, tentu perdamaian akan muncul dengan sendirinya..

Semangat! :)

No comments:

Post a Comment

How do you think? :)